Daerah

Kisah Pilu Afrianti, Rumah Hanyut Tak Bersisa

Padang – Di Lambung Bukik, Kota Padang, Sabtu (29/11/2025) pagi tak lagi sama bagi Afrianti. Di bawah langit yang masih menyisakan kelabu bencana, ia bersama suami dan anak-anaknya berdiri di tengah puing-puing rumah yang dulu menjadi tempat mereka berlindung. Kini, yang tersisa hanyalah serpihan papan basah, lumpur tebal, dan potongan-potongan ingatan yang sulit diselamatkan.

Dengan tangan gemetar, Afrianti mengais reruntuhan. Ia mencari apa pun sepotong pakaian, dokumen penting, atau mungkin kenangan kecil yang tidak sempat ia bawa saat air bah datang begitu cepat.

“Baru jam enam saya ke luar rumah saya lihat ke sungai, batang-batang kayu sudah menumpuk di jembatan Gunung Nago,” tutur Afrianti dengan suara yang pecah. Saat kayu-kayu besar itu menghantam jembatan, sebuah rumah warga di sisi sungai tersapu begitu saja.

Dalam hitungan menit, debit air melonjak. Gelombang lumpur menghantam permukiman, merangsek ke arah rumahnya.

“Air naik dan langsung meluap ke arah rumah saya. Jembatan putus, saya bawa keluarga mengungsi. Tidak ada yang bisa diselamatkan saya keluar tanpa membawa apa-apa,” kenangnya.

Namun ada beban lain yang lebih berat dari sekadar barang: orang tuanya yang tunanetra dan tak mampu berjalan.

Dengan sisa tenaga dan panik yang menguasai, Afrianti dan keluarganya mengangkat tubuh renta orang tuanya, berlari menembus gelap dan amuk air bah untuk menyelamatkan nyawa.

Ketika air mulai surut, ia kembali melihat rumahnya. Masih berdiri. Masih tegak. Masih seperti memiliki harapan.

Karena itulah Afrianti memutuskan tidak mengeluarkan barang apa pun.

“Saya pikir rumah saya aman,” ucapnya lirih.

Namun malam kembali menipu. Air kembali naik. Meluap. Jalan kembali ditelan lumpur. Dan jembatan kembali menyisakan kehancuran.

Pagi berikutnya, Jumat 28 November, material banjir bandang menghantam rumahnya sekali lagi. Kali ini lebih keras. Lebih mematikan. Lebih merenggut.

Kini, Afrianti tak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi juga kehilangan masa depan yang masih harus ia perjuangkan untuk anak-anaknya yang masih sekolah, masih balita, masih membutuhkan tempat tidur, tikar, dan ruang aman agar tidak jatuh sakit.

“Saya belum menerima bantuan apa pun hanya makanan. Saya butuh tikar, tempat tidur untuk anak-anak. Untuk mengontrak tidak mungkin. Anak-anak butuh biaya, suami tidak bekerja,” ungkap Afrianti sambil menahan air mata.

Ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin tempat bagi keluarganya. Ruang untuk memulai lagi. Sedikit kepastian agar anak-anaknya tidak tumbuh dalam luka yang dibawa banjir ini.

“Saya mohon kepada pemerintah di mana saya ditempatkan, saya terima. Yang penting saya dan anak-anak bisa selamat,” tuturnya pilu.

Di tengah deru alat berat dan aroma lumpur yang menyesakkan, Afrianti berdiri menatap sisa-sisa rumahnya.

Tak ada lagi meja makan tempat ia dan keluarganya berkumpul. Tak ada lagi ruang tidur anak-anak. Tak ada lagi halaman kecil tempat mereka bermain.

Yang tersisa kini hanyalah keberanian seorang ibu untuk tetap bertahan meski seluruh dunianya tersapu banjir bandang.

Dan dari mata Afrianti, terlihat jelas bahwa perjuangannya jauh dari selesai.(Jamal)