Padang – Direktur Liga TopSkor, Yusuf Kurniawan, angkat bicara soal kebijakan baru penggunaan pemain asing di Liga 1 Indonesia yang kini mencapai format 8+3 (8 di lapangan, 3 cadangan). Menurutnya, situasi ini memang sukar, tapi bukan berarti mustahil untuk dihadapi oleh pemain lokal.
“Menurut saya ini sukar, bukan susah. Karena sekarang kompetisi kita sudah masuk ke pasar bebas. Siapa yang terbaik, ya dia yang berhak main di atas,” ujar Yusuf dalam sebuah forum diskusi sepak bola, Minggu (13/7/2025) di Padang.
Kebijakan ini menurut Yusuf bisa jadi bumerang jika tidak diimbangi dengan kesiapan manajemen klub. Ia menyoroti banyak klub yang memaksakan diri merekrut pemain asing meski dari sisi finansial belum stabil.
“Di Indonesia tuh kadang yang penting kesohor, meskipun tekor. Slot asing 11 diisi semua, tapi ujung-ujungnya gaji telat,” tegasnya.
Yusuf menegaskan bahwa tantangan ini harus disikapi dengan adaptasi, bukan keluhan. Ia percaya pemain lokal tetap punya ruang untuk berkembang jika mampu menunjukkan kualitas.
“Kita masih punya Liga 2, Liga 3. Jangan matikan semangat anak-anak muda. Ujungnya tetap timnas. Dan di sana, yang dipanggil bukan cuma dari Liga 1,” ucap dia.
Ia mencontohkan pemain-pemain lokal seperti Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan yang mampu bersaing hingga level tim nasional meskipun berasal dari klub-klub domestik.
Yusuf secara pribadi mengaku tidak setuju dengan jumlah pemain asing yang terlalu banyak. Menurutnya, jika tujuannya untuk meningkatkan kualitas kompetisi, harus ada jaminan hasil yang konkret.
“Kalau benchmark-nya mau saingi klub Asia di AFC, ya harus ada hasil. Sekarang kita lihat klub Indonesia kadang masih seadanya kalau main di luar. Jadi belum tentu efektif,” jelasnya.
Ia membandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang hanya memakai lima pemain asing, tapi bisa bersaing di level Asia.(Jamal)













