Padang – Basarnas Padang mengevakuasi 12 anak buah kapal (ABK) KM Halim Wijaya yang mengalami mati mesin di perairan sekitar Pulau Angso Duo, Pariaman. Seluruh kru berhasil ditemukan dalam keadaan selamat setelah sempat terombang-ambing akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Kepala Basarnas Padang, Abdul Malik, mengatakan pihaknya menerima laporan dari pemilik kapal setelah upaya perbaikan mesin oleh kru tidak membuahkan hasil.
“Kami mendapat informasi KM Halim Wijaya mengalami mati mesin sekitar pukul 16.00 WIB di perairan Pulau Angso Duo. Kru sudah berusaha memperbaiki mesin, tetapi tidak berhasil. Selanjutnya pemilik kapal melapor kepada kami untuk meminta bantuan,” kata Abdul Malik, Kamis (6/8/2026).
Menindaklanjuti laporan tersebut, Basarnas awalnya mengerahkan KN Yudhistira dari Bungus menuju lokasi kejadian. Namun kapal penyelamat itu terpaksa kembali berlindung karena cuaca buruk dengan tinggi gelombang mencapai sekitar 3 meter.
“Dalam perjalanan, cuaca tidak memungkinkan. Gelombang mencapai hampir 3 meter sehingga KN Yudhistira kembali ke Bungus untuk berlindung,” ujarnya.
Basarnas kemudian mengerahkan RIB-02 untuk melanjutkan operasi pencarian. Pada pukul 06.20 WIB, KM Halim Wijaya berhasil ditemukan.
“Alhamdulillah pada pukul 06.20 WIB kapal berhasil ditemukan. Seluruh 12 kru dalam keadaan selamat,” katanya.
Setelah ditemukan, KM Halim Wijaya kemudian ditarik (tow) menuju Pelabuhan Bungus.
Menurut Abdul Malik, kondisi cuaca menjadi tantangan utama dalam operasi tersebut. Meski prakiraan tinggi gelombang berkisar 1,25 hingga 2,5 meter, kondisi di lapangan mencapai sekitar 3 meter.
“Kami berupaya semaksimal mungkin mencapai kapal karena dikhawatirkan saat mati mesin kapal bisa kemasukan air. Syukurlah seluruh kru berhasil diselamatkan,” ujarnya.
Basarnas juga mengimbau para nelayan agar memperhatikan informasi cuaca sebelum melaut. Berdasarkan prakiraan BMKG Maritim, gelombang di perairan Sumatera Barat masih berpotensi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter hingga 8 Agustus.
“Kami mengimbau nelayan untuk memperhatikan informasi cuaca dari BMKG. Jika kondisi kapal tidak memungkinkan menghadapi gelombang tersebut, sebaiknya menunda melaut demi keselamatan,” tutup Abdul Malik.(Jamal)












