Jakarta – Indonesia menorehkan sejarah dengan meluncurkan ClimateSmart Indonesia, platform kecerdasan buatan (AI) pertama di dunia yang dirancang khusus untuk memprediksi dan merespons penyakit yang dipicu oleh perubahan iklim. Inovasi ini menandai langkah besar Indonesia dalam menghadirkan solusi kesehatan publik berbasis teknologi di tengah krisis iklim global.
Peluncuran resmi platform ini berlangsung hari ini di Hotel JS Luwansa, Jakarta, dan dihadiri oleh jajaran pembuat kebijakan nasional, ilmuwan iklim, ahli AI, profesional kesehatan, serta mitra internasional. Inisiatif ini merupakan kolaborasi strategis antara Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI), dan Institute for Health Modeling and Climate Solutions (IMACS), dengan dukungan penuh dari berbagai kementerian terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kominfo, BMKG, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Pembentukan Pusat Keunggulan AI Indonesia untuk Kesehatan Iklim menandai tonggak penting dalam komitmen negara kita untuk membangun sistem kesehatan publik yang tangguh terhadap iklim,” ujar Prof. Dr. Hammam Riza, Presiden KORIKA. “Ini bukan sekadar platform—ini adalah ekosistem nasional berbasis inovasi, sains, dan tata kelola.”
Teknologi Mutakhir untuk Tantangan Nyata
ClimateSmart Indonesia mengintegrasikan teknologi AI canggih dengan pemodelan iklim dan sistem kesehatan untuk memberikan prediksi penyakit secara hiper-lokal dengan akurasi lebih dari 90 persen. Penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan leptospirosis kini dapat dipantau secara proaktif melalui platform ini.
Fitur unggulan lainnya meliputi Digital Twin Indonesia, simulasi digital interaktif yang dapat memetakan potensi penyebaran penyakit berdasarkan skenario iklim masa depan, serta dasbor dinamis yang menyediakan peringatan dini real-time dan alat bantu pengambilan keputusan bagi para pengambil kebijakan.
Platform ini memanfaatkan integrasi data satelit, informasi kesehatan masyarakat, dan data demografi, memungkinkan analisis spasial mendalam untuk mendukung strategi respons kesehatan yang cepat dan tepat sasaran.
Pemimpin Nasional dan Internasional Hadir
Acara peluncuran turut menghadirkan tokoh-tokoh penting nasional seperti Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria, dan Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati. Dari tingkat internasional, hadir pula Managing Director Malaria No More Kelly Willis, serta pakar klimatologi Dr. Ardhaseena Sopaheluwakan dari BMKG.
“Dengan mengintegrasikan data iklim dan kesehatan, Indonesia menunjukkan kepemimpinan global,” ujar Dr. Setiaji, Kepala Digital Transformation Office Kemenkes. “Melalui platform Satu Sehat dan ClimateSmart, kita tengah mendefinisikan masa depan kesehatan publik digital.”
Nezar Patria menambahkan, “Peluncuran ClimateSmart Indonesia merupakan langkah penting dalam adopsi teknologi AI untuk menjawab tantangan ganda perubahan iklim dan kesehatan masyarakat. Ini adalah bentuk nyata dari komitmen nasional terhadap masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.”
Didukung oleh Filantropi Global
Inisiatif ini didanai oleh Reaching the Last Mile dan Patrick J. McGovern Foundation, serta melibatkan lebih dari 20 pemangku kepentingan dan 3 konsultasi tingkat tinggi selama dua tahun terakhir. Platform ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor dan negara mampu menciptakan inovasi berdampak besar untuk menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks.
Dengan ClimateSmart Indonesia, bangsa ini tidak hanya bersiap menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi juga mengambil peran kepemimpinan dalam membentuk masa depan kesehatan global berbasis data dan teknologi.(***)













