Padang – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat berhasil menggagalkan peredaran 100 kilogram ganja kering yang diduga akan diedarkan di Bukittinggi dan Payakumbuh. Penangkapan ini bukan hanya soal hukum, tapi juga penyelamatan ribuan warga dari bahaya narkoba.
Pengungkapan ini berawal dari informasi masyarakat yang menyebut akan ada pengiriman ganja dari Mandailing Natal, Sumatera Utara, menuju Sumatera Barat. Menyikapi laporan tersebut, Kepala BNNP Sumbar Brigjen Pol Ricky Yanuarfi langsung turun memimpin operasi.
Tepat pada Kamis dini hari (17/7/2025), sekitar pukul 03.00 WIB, dua mobil yang dicurigai melintas di Jalan Lintas Bukittinggi–Medan, tepatnya di Jorong Padanggadang, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.
Petugas yang sudah siaga langsung melakukan penyergapan. Dua mobil—Toyota Kijang RGX silver dan Daihatsu Grand Max putih—dihentikan secara bersamaan.
“Awalnya para pelaku mengaku hanya membawa barang dagangan. Tapi setelah digeledah, ditemukan 100 paket besar ganja kering di bagian belakang mobil,” ujar Brigjen Ricky.
Empat orang langsung diamankan, yakni:
• JM (26), pedagang, warga Bukittinggi
• AY (26), pedagang, warga Mandiangin, Bukittinggi
• E (27), pedagang, warga Pasar Bawah, Bukittinggi
• BF alias DF (29), pedagang, warga Tarok Dipo, Bukittinggi
Tiga di antaranya ternyata alumni satu SMA di Bukittinggi dan diduga saling merekrut untuk bergabung dalam jaringan ini.
“Ini unik. Mereka satu sekolah, satu angkatan, dan kini satu jaringan. Mereka kompak membagi peran dalam pengiriman ganja,” kata Ricky.
Barang bukti yang diamankan dari para pelaku 100 paket besar ganja, dengan berat bersih 1.825,675 gram.2 unit kendaraan serta handphone milik para pelaku.
BNNP Sumbar menegaskan bahwa keberhasilan operasi ini telah menyelamatkan ribuan warga dari ancaman penyalahgunaan narkotika.
“Bayangkan kalau 100 kilogram ini sampai ke pengguna. Dampaknya sangat besar, bisa merusak generasi muda,” tegas Ricky.
BNNP Sumbar menyatakan tidak akan berhenti di penangkapan ini. Penelusuran terhadap pemilik barang dan perekrut (DPO) masih terus dilakukan.
“Kami akan kejar sampai ke akar. Ini baru permulaan, dan kami yakin ada jaringan yang lebih besar di belakangnya,” tutup Ricky.(Jamal)













