Padang – Semarak Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-356 tahun memuncak pada Rabu malam (6/8/2025) lewat gelaran Pawai Telong-Telong, yang menghadirkan ribuan peserta dan penonton di pusat Kota Padang. Agenda budaya tahunan ini menjadi ajang unjuk kreativitas, kolaborasi, dan kebanggaan warga terhadap identitas kotanya.
Sejak sore hari, warga mulai memadati ruas Jalan Bagindo Aziz Chan untuk menyaksikan pawai yang melibatkan perwakilan dari 11 kecamatan se-Kota Padang, BUMN, BUMD, hingga organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Rute pawai dimulai dari Masjid Agung Nurul Iman dan berakhir di halaman Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center.

Wali Kota Padang, Fadly Amran, bersama Wakil Wali Kota Maigus Nasir, hadir langsung menyapa peserta dan warga. Ia mengaku bangga melihat antusiasme yang luar biasa.
“Tumpah ruah warga, semangat para peserta, dan antusiasme para tamu undangan, semua bersatu memeriahkan kegiatan kota kita tercinta,” ujarnya.
Miniatur Masjid Raya Jadi Sorotan
Salah satu atraksi yang menyita perhatian datang dari Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara. Mereka menampilkan miniatur Masjid Raya Sumatera Barat yang dibuat sendiri oleh para pemuda, diarak sepanjang rute pawai hingga finis di Youth Center.
Lurah Alai Parak Kopi, Afrimen, mengatakan karya tersebut adalah bentuk kontribusi nyata masyarakat untuk memeriahkan HJK.
“Miniatur ini dibuat oleh para pemuda kami sendiri. Mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga tampil langsung dalam pawai,” jelasnya.
Partisipasi ini juga menjadi momentum merayakan capaian kelurahan sebagai Kelurahan Berprestasi III tingkat Kota Padang. Menurut Afrimen, keberhasilan itu mencakup program ketahanan pangan, penerapan konsep smart city, pengembangan Kampung Payet sebagai sentra kerajinan, pembibitan melon, peran aktif Karang Taruna, dan peningkatan kualitas pelayanan administrasi.
Sebagai bentuk apresiasi, pihak kelurahan akan menggelar pentas hiburan rakyat pada akhir Agustus di halaman kantor lurah, yang akan melibatkan seluruh 14 RW dan 53 RT dengan total penduduk sekitar 13 ribu jiwa.
120 Pelajar Buka Pawai dengan Tarian Kolosal
Pawai Telong-Telong tahun ini dibuka oleh penampilan 120 pelajar tingkat SMP se-Kota Padang. Mereka membawakan tarian kolosal bertajuk “Satujuan”, menggambarkan semangat kebersamaan dan mendukung visi pembangunan kota.

Koreografer sekaligus guru seni SMP Negeri 1 Padang, Evindo Marsiano, S.Pd., menjelaskan bahwa tarian ini terinspirasi filosofi tungku tigo sajarangan yang menyatukan unsur adat, syariat, dan budaya.
“Kami masukkan elemen silat, makan bajamba, serta simbol bundo kanduang. Konsepnya menggabungkan nilai budaya dengan semangat modern,” ungkapnya.

Menurut Evindo, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan budaya seperti ini adalah bentuk investasi karakter. “Ini pondasi untuk mencetak generasi cerdas dan berkarakter,” tambahnya.
Yang membuat momen ini semakin spesial adalah kehadiran Khesy Jenetha Andres, pelajar asal Padang yang baru saja dinobatkan sebagai Puteri Pelajar Indonesia 2025. Kehadirannya mendapat sambutan meriah dari penonton dan memantik rasa bangga.
Menyambut HUT ke-80 RI dengan Semangat yang Sama
Selain memeriahkan HJK, Kelurahan Alai Parak Kopi juga tengah bersiap menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. Sesuai Surat Edaran Wali Kota Padang, seluruh warga diimbau mengibarkan bendera Merah Putih sejak 1 hingga 31 Agustus.

Di tingkat RT dan RW, berbagai lomba, pertunjukan seni, dan kegiatan gotong royong sudah dijadwalkan untuk memupuk kebersamaan.
“Semangat HJK dan HUT RI harus kita rayakan dengan kebersamaan dan kebanggaan sebagai warga Padang,” tutup Afrimen.
Pawai yang Jadi Identitas Kota
Pawai Telong-Telong bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga ajang pelestarian budaya dan ruang ekspresi bagi masyarakat dari berbagai usia. Melalui kreativitas, kolaborasi, dan partisipasi aktif, kegiatan ini memperkuat identitas Kota Padang sebagai kota yang kaya tradisi dan dinamis dalam inovasi.
Dengan energi yang terpancar di setiap langkah peserta, Pawai Telong-Telong 2025 membuktikan bahwa semangat kebersamaan warga Padang tidak pernah padam, bahkan setelah 356 tahun perjalanan sejarah kotanya.(***)













