Padang – Warga Sungai Pisang, Teluk Kabung, Kota Padang, menggelar tradisi Limau Barongge, Selasa (17/2/2026), tepat sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan suku di Sungai Pisang.
Prosesi adat dilaksanakan pada sore hari atau selepas Salat Ashar. Meski demikian, berbagai persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari oleh masyarakat.
Puluhan ibu-ibu terlebih dahulu berkumpul dan berbaris rapi. Dulang-dulang yang telah dihias dan berisi perasan air limau disusun di atas karpet merah. Suasana semakin khidmat saat iringan talempong yang dimainkan kelompok bapak-bapak mengawali rangkaian acara.
Setelah seluruh tokoh masyarakat hadir, dulang kemudian diarak berkeliling kampung. Dulang tersebut diangkut oleh puluhan perempuan yang terdiri dari Bundo Kanduang bersama anak kemenakan.
Arak-arakan berakhir di pusat pemerintahan Nagari Sungai Pisang. Di lokasi tersebut, dulang kembali disusun di atas karpet merah. Prosesi dilanjutkan dengan penyampaian petatah petitih sebagai nasihat adat, sebelum memasuki ritual inti penggunaan air limau.
Air limau yang telah dipersiapkan kemudian diusapkan ke wajah masing-masing peserta. Ritual ini menjadi simbol penyucian diri menjelang datangnya Ramadan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, saling bersalaman, dan warga pun kembali ke rumah masing-masing.
Tetua kampung Sungai Pisang, Irwan Bahar, mengatakan tradisi Limau Barongge telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
“Dari nenek-nenek dulu sampai sekarang tidak akan pernah hilang atau pudar. Karena Limau Barongge ini turun-temurun sampai sekarang tetap dilestarikan untuk menyambut bulan Ramadan, dengan limau dibawa oleh anak kemenakan,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap adat dan warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Tradisi Limau Barongge tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat Sungai Pisang dalam menyambut bulan penuh berkah.(Jamal)













